Makassar, 19 April 2025 – Bertempat di AFA CAFE Jl. Dg. Tata Raya Lrg. SLB No.68, Parang Tambung, Kec. Tamalate, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sebuah diskusi yang bertema "From Macro to Market: Q1’s Economic Influence on Crypto and Stock" sukses digelar dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai wadah edukatif untuk mengkaji keterkaitan antara data ekonomi makro kuartal pertama (Q1) tahun 2025 dengan pergerakan pasar saham dan aset kripto yang belakangan semakin menarik perhatian di kalangan generasi muda.
Diskusi menghadirkan narasumber-narasumber muda inspiratif yang memiliki pengalaman serta analisis tajam terhadap dunia market ekonomi. Salah satu pemateri adalah Muhammad Citomulya S.Kom yang membawakan materi tentang Ekonomi Q1 Tahun 2025:AS Resesi Crypto Naik atau Jatuh. Di sisi lain, pemateri dari Mahasiswa Universitas Negeri Makassar adalah Ardiyansa yang memaparkan Analisa BTCUSDT Teknikal and Makro Mei Tahun 2025.
Gejolak Pasar pada Kuartal Pertama 2025: Antara Tantangan dan Peluang
Pada kuartal pertama tahun 2025, pasar saham dan kripto menunjukkan pola pergerakan yang fluktuatif dan tidak menentu. Faktor utama penyebabnya berasal dari ketegangan geopolitik global, ketidakpastian, serta perubahan kebijakan ekonomi di negara-negara besar dunia. Di satu sisi, kondisi ini menciptakan keresahan di kalangan investor, namun di sisi lain, kondisi seperti ini justru menjadi peluang bagi investor yang mampu membaca tren secara cermat dan tepat.
Ketidakpastian global saat ini membuat sentimen investor cepat berubah. Volatilitas harga terutama pada pasar saham dan aset kripto yang bisa berubah tajam hanya dalam hitungan jam saja. Meski demikian, beberapa pelaku pasar melihat peluang keuntungan jangka pendek melalui strategi secara cermat dan tepat dalam kemampuan membaca sentimen pasar secara real time.
Tarif Donald Trump 2025: Guncangan Baru bagi Ekonomi Global
Salah satu topik yang menjadi perhatian khusus dalam diskusi ini adalah dampak dari kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang kembali menjabat pada tahun 2025. Pemerintahannya memberlakukan tarif impor baru terhadap sejumlah negara mitra dagang utama seperti Tiongkok, Meksiko, dan negara-negara di Uni Eropa. Kebijakan proteksionis ini tidak hanya memicu ketegangan diplomatik, tetapi juga memengaruhi langsung arus perdagangan internasional dan rantai pasok global.
Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan bahwa kebijakan tarif ini akan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi global serta meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara. Banyak perusahaan multinasional kini terpaksa mencari alternatif sumber bahan baku dan lokasi produksi baru, akibatnya biaya produksi meningkat dan margin keuntungan menipis.
Efek domino lainnya adalah penurunan Foreign Direct Investment (FDI) ke negara-negara berkembang, karena investor global mulai bersikap lebih berhati-hati terhadap kebijakan dagang yang sulit diprediksi. Tingkat ketidakpastian yang tinggi ini mengakibatkan banyak investor lebih memilih instrumen safe haven seperti emas dan obligasi dibandingkan aset berisiko tinggi seperti pasar saham ataupun aset kripto.
Outlook Q2 2025: Stabilitas atau Masih Tertahan?
Memasuki kuartal kedua tahun 2025, arah market ekonomi terutama aset kripto seperti Bitcoin dan yang lainnya, masih menyisakan tanda tanya besar: akankah pasar bergerak menuju stabilisasi, atau justru kembali terguncang oleh tekanan ekonomi global? Sejumlah analis dari lembaga ternama seperti CoinShares atau dari 21Shares memberikan berbagai pandangan terkait penentuan arah pasar nantinya. Namun satu hal yang mereka sepakati adalah bahwa kondisi makro ekonomi global dan arah kebijakan moneter akan sangat menentukan arah pasar dalam beberapa bulan ke depan.
Menurut laporan terbaru dari Coinbase, volatilitas secara jangka pendek diperkirakan masih akan berlangsung hingga pertengahan Mei tahun 2025. Ketidakpastian terkait suku bunga, inflasi, serta ketegangan geopolitik secara global membuat pasar bergerak dalam pola yang tidak stabil. Meski begitu, ada harapan bahwa pada pengaruh kedua kuartal ini, pasar dapat mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi—terutama jika pelonggaran kebijakan moneter dari sejumlah bank sentral besar seperti The Fed, ataupun yang lainnya dilakukan secara terukur dan konsisten.
Di tengah berbagai tekanan tersebut, pelaku pasar berharap akan adanya sinkronisasi antara kebijakan fiskal dan moneter di berbagai negara dunia. Koordinasi kebijakan yang tepat diyakini dapat meredam ketidakpastian dan menciptakan ruang bagi pemulihan ekonomi. Jika stabilitas politik dapat terjaga dan bank sentral mampu mengendalikan inflasi tanpa menimbulkan kontraksi ekonomi, maka pasar saham dan kripto memiliki peluang besar untuk masuk dalam fase konsolidasi dan pemulihan bertahap hingga penghujung kuartal kedua 2025.
0 Komentar